
Cirebon – Empat mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon mengolah minyak jelantah menjadi sabun penghilang noda. Produk yang diberi nama Jelvora itu dikembangkan sebagai salah satu inovasi pemanfaatan limbah rumah tangga.
Keempat mahasiswi tersebut yakni Suci Zaitiani, Aulia Cantika, Yuni Prasetya, dan Serafina. Mereka memperkenalkan Jelvora kepada pengunjung Grage Mall Cirebon, Kamis (5/11). Dalam kesempatan itu, mereka juga memperagakan kemampuan sabun tersebut untuk mengangkat noda membandel pada kain.
“Jadi ini memang dibuat sebagai program pengembangan kita. Sebelumnya kami juga pernah membuat lilin dari minyak jelantah, sejak akhir tahun kemarin dengan nama Jelantara,” ujar Suci.
Suci mengatakan, pengembangan Jelvora membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Selama proses tersebut, mereka beberapa kali melakukan percobaan untuk mendapatkan formula sabun yang sesuai.
Minyak jelantah terlebih dahulu direndam menggunakan arang untuk mengurangi bau. Setelah itu, minyak disaring sebelum dicampurkan dengan bahan lain, seperti air, soda api, dan pewangi racikan sendiri.
Dalam proses pembuatannya, mereka sempat menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya sabun yang tidak terbentuk sesuai harapan, ketepatan takaran bahan, hingga ketersediaan minyak jelantah sebagai bahan baku.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, mereka menjalin kerja sama dengan para penggerak UMKM di kawasan Bima, Cirebon. Sementara dalam pengembangan formula, mereka mendapat pendampingan dari dosen bernama Rita serta belajar secara mandiri melalui jurnal dan berbagai referensi.
Pengembangan Jelvora juga dilakukan di luar lingkungan kampus. Suci bersama rekan-rekannya pernah menggelar lokakarya pembuatan sabun bersama ibu-ibu PKK di Desa Sukawinangun, Cirebon.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta ikut mempraktikkan proses pembuatan sabun. Produk yang dihasilkan kemudian diuji langsung untuk membersihkan mukena milik kepala desa.
Inovasi tersebut kemudian dibawa ke ajang ASTA (Aktivasi Startup Indonesia) One Minute Startup Challenge 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Cirebon pada 30-31 Oktober. Mereka bersaing dengan sembilan tim mahasiswa lainnya melalui video presentasi bisnis berdurasi satu menit.
Jelvora berhasil masuk tiga besar dan mendapat penghargaan dari Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Penghargaan itu diberikan dalam kegiatan Creative by Indonesia: IDE.IND di Grage Mall Cirebon.
Saat mengunjungi stan Jelvora, Riefky menyimak penjelasan Suci dan rekan-rekannya. Dia juga menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan sabun berbahan minyak jelantah tersebut.
Riefky mengapresiasi ide para mahasiswi yang mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Saya senang melihat anak-anak muda seperti tim Jelvora. Mereka melihat sesuatu yang selama ini dianggap limbah, kemudian mengubahnya menjadi produk yang punya nilai ekonomi. Inilah esensi ekonomi kreatif: kemampuan melihat peluang dari hal-hal sederhana, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Riefky.
Selain Jelvora, kegiatan Creative by Indonesia juga menghadirkan sejumlah inovasi dari pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya KBM App, platform novel digital yang dikembangkan penulis Asma Nadia.
Platform tersebut mempertemukan penulis dengan pembaca. Melalui aplikasi itu, penulis juga memiliki kesempatan mendapatkan penghasilan dari karya yang mereka buat.
Asma Nadia bercerita, gagasan KBM App berawal ketika pandemi membuat banyak orang menghabiskan waktu di rumah. Novel digital kemudian menjadi salah satu pilihan hiburan yang bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja.
Platform tersebut mulai diluncurkan pada Mei 2019. Kini, KBM App telah digunakan sekitar 6,8 juta orang.
Bagi Asma, perkembangan platform itu tidak hanya dilihat dari jumlah penggunanya. Dia juga melihat bagaimana karya para penulis dari berbagai daerah bisa memberikan penghasilan dan membantu kehidupan mereka.
“Setelah para penulis memberikan karya-karya kreatifnya, saya senang melihat mereka memetik hasilnya. Ada yang akhirnya bisa membeli kursi roda untuk ibunya yang sakit, ada yang bisa bebas dari utang pinjol, ada yang bisa membayar gadaian rumah, bahkan membangun rumah. Mereka dari seluruh daerah di Indonesia, luar biasa semangat menulisnya,” tutur Asma.
Di KBM App, penulis bisa memperoleh penghasilan melalui sistem pembacaan berbayar. Pengelola platform juga menerapkan sistem bagi hasil, sehingga penulis mendapatkan bagian dari pendapatan yang dihasilkan karya mereka.
Kisah Jelvora dan KBM App menjadi bagian dari kegiatan Creative by Indonesia yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif di Cirebon. Kegiatan tersebut berlangsung di Atrium Utama Grage Mall Cirebon melalui program IDE.IND.
Dalam kegiatan itu, terdapat 12 stan pameran yang menampilkan produk dari delapan subsektor ekonomi kreatif. Selain pameran, agenda tersebut juga diisi empat sesi diskusi dan pertemuan antara pelaku usaha, komunitas, akademisi, serta talenta digital.
IDE.IND dirancang untuk mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan pengetahuan, jejaring, mitra kolaborasi, dan peluang pasar. Melalui kegiatan tersebut, para pelaku kreatif diharapkan bisa mengembangkan ide dan produk mereka menjadi usaha yang berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan kolaborasi diperlukan untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif di daerah. Menurutnya, talenta lokal perlu mendapat ruang, pendampingan, dan akses pasar agar kreativitas mereka bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi.
“Jangan pernah meremehkan ide yang terlihat sederhana. Dari minyak jelantah bisa lahir sebuah produk, dari cerita bisa lahir penghidupan, dan dari kreativitas anak-anak daerah bisa lahir kekuatan ekonomi baru. Kita ingin memastikan, tidak ada potensi kreatif yang berhenti hanya karena tidak punya akses dan kesempatan,” ujar Riefky.




