
Kuningan – Waduk Darma terlihat membentang luas di antara perbukitan hijau di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dari tepian waduk, pengunjung bisa melihat perairan yang dikelilingi bukit-bukit hijau.
Suasana waduk juga bisa dinikmati dari atas perahu. Sejumlah perahu disediakan untuk membawa pengunjung berkeliling, menyusuri perairan sambil menikmati pemandangan di sekitarnya.
Di balik aktivitas wisata itu, warga Desa Jagara, Kecamatan Darma, ikut memanfaatkan ramainya kunjungan ke kawasan Waduk Darma. Berbagai usaha dijalankan warga, mulai dari UMKM, parkir hingga jasa wisata yang dikelola bersama melalui BUMDes.
Kepala Desa Jagara, Umar Hidayat mengatakan pihaknya ingin pengembangan potensi wisata di desanya berjalan beriringan dengan peningkatan usaha masyarakat. Namun menurutnya, masih ada sejumlah potensi yang perlu dikembangkan, termasuk usaha warga yang berkaitan dengan perikanan.
“Kami mohon peran OJK, mari kita bersama-sama berkolaborasi dalam mengembangkan potensi yang ada di Desa Jagara,” kata Umar, Rabu (23/9/2026).
Umar mengatakan warga Jagara masih melakukan budidaya ikan di perairan Waduk Darma. Namun, kegiatan tersebut belum berjalan maksimal karena warga masih menghadapi persoalan biaya dan modal.
“Untuk budidaya ikan di Waduk Darma khususnya warga Jagara sekarang masih produksi, cuman kurang produktif. Kenapa? Karena persoalannya yaitu dari modal,” ujarnya.
Umar menyebut, dari luas perairan Waduk Darma sekitar 440 hektare, sekitar 130 hektare berada di wilayah Desa Jagara.
Potensi perairan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang dikembangkan bersama aktivitas wisata. Di sisi lain, kegiatan ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan waduk juga mulai melibatkan semakin banyak warga.
Direktur Utama BUMDes Jagara Sopyan mengatakan BUMDes mulai diarahkan mengembangkan konsep desa wisata sejak 2022. Salah satu tujuannya adalah agar keberadaan aktivitas wisata tidak hanya menjadi tujuan kunjungan, tetapi juga memberi ruang bagi warga untuk terlibat sebagai pelaku usaha.
“Tujuan kami bagaimana kami bisa memberikan dampak manfaat terhadap masyarakat. Dan artinya, ketika konsep kami adalah ke Desa Wisata Jagara, tujuan kami bagaimana warga masyarakat desa ini adalah mereka sebagai pelaku usaha pariwisata yang ada di Desa Jagara,” kata Sopyan.
Sopyan menyebut kunjungan ke kawasan wisata di Jagara mencapai sedikitnya 130 ribu orang dalam sebulan. Pengunjung tidak hanya berasal dari daerah sekitar, tetapi juga dari luar daerah dan sebagian wisatawan asing.
Aktivitas wisata itu kemudian membuka berbagai jenis usaha yang dikelola atau dijalankan warga. Mulai dari usaha makanan, parkir hingga jasa yang berkaitan dengan kegiatan wisata di sekitar Waduk Darma.
Kata Sopyan, per Juni 2026, terdapat 243 pelaku UMKM, 70 pelaku usaha parkir, 131 pelaku usaha tutut dan lebih dari 200 pelaku jasa pariwisata. Secara keseluruhan, Sopyan mencatat ada 1.076 warga yang terlibat langsung dalam usaha BUMDes di sektor pariwisata.
Dari aktivitas tersebut, BUMDes juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli desa. Sopyan menyebut kontribusi yang diberikan pada 2023 sebesar Rp69 juta, kemudian meningkat menjadi Rp128 juta pada 2024 dan Rp588 juta pada 2025.
“Di tahun 2025 kemarin, kami bisa memberikan kontribusi Rp588 juta terhadap PADes desa,” ujarnya.
Menurut Sopyan, sumber pendapatan BUMDes paling besar masih berasal dari pengelolaan atraksi wisata. Selain itu, ada pula pendapatan dari pengelolaan sampah.
“Yang paling dominan masih tetap posisinya adalah dari atraksi wisata yang kita kelola,” kata Sopyan.
Aktivitas ekonomi tersebut juga mulai menggunakan transaksi digital. Sopyan mengatakan pembayaran tiket dan sejumlah layanan wisata sudah bisa dilakukan menggunakan QRIS, sementara transaksi secara nontunai juga mulai digunakan sebagian pelaku usaha.
“Kalau tiket kita sudah pakai QRIS. Naik perahu juga posisi pembayarannya kita pakai QRIS,” ujarnya.
Sementara itu, persoalan akses modal untuk usaha perikanan di Waduk Darma menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib mengatakan Jagara memiliki potensi ekonomi, tetapi akses keuangan masyarakatnya masih perlu diperkuat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah warga yang bergerak di sektor perikanan.
“Kami, kenapa kok kemudian memilih Desa Jagara sebagai desa ekosistem keuangan inklusif? Karena ini desa yang memang sudah memiliki potensi. Tetapi kita melihat fenomena masyarakat ternyata belum mendapatkan akses keuangan yang baik, terutama tadi di sektor perikannya,” ujar Agus.
Agus menyebut terdapat sekitar 230 warga yang menjadi pelaku usaha perikanan. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 warga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, sementara warga lainnya masih menghadapi kendala, terutama dalam akses permodalan.
Untuk itu, Agus menyebut OJK ingin memperluas akses keuangan bagi pelaku UMKM dan warga yang menjalankan usaha. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan, tetapi juga mencakup kemudahan layanan keuangan dan peningkatan pemahaman masyarakat.
“Kami melihat berarti ada sesuatu gap antara mereka tidak bisa mengakses karena tidak tahu informasinya atau enggak bisa mengakses karena ada kendala yang memang perlu sentuhan dari OJK untuk kemudian masuk,” kata dia.
“Target kami yang pertama, setidaknya ada masyarakat pelaku usaha UMKM di Desa Jagara bisa mendapatkan akses keuangan,” kata Agus menambahkan.
Di sisi lain, OJK juga mendorong semakin banyak pelaku usaha menggunakan transaksi digital dalam kegiatan sehari-hari.
“Yang ketiga, digitalisasi UMKM. Kami berharap nanti melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, banyak kemudian pelaku UMKM menyediakan transaksi pembayaran melalui QRIS,” ujarnya.




