Cirebon – Dakwah sering kali dipahami sebatas ceramah atau khutbah di masjid. Padahal, hakikat dakwah jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan nasihat di mimbar. Dakwah adalah proses menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang bijak, penuh hikmah, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Menurut Mulyani (2023) dalam Filosofi dan Metode Dakwah Kontemporer, dakwah merupakan aktivitas yang menuntut pemahaman metodologis dan kontekstual agar pesan Islam dapat diterima sesuai situasi sosial dan perkembangan zaman.

Seiring perkembangan zaman, metode dakwah mengalami transformasi besar. Seorang da’i kini tidak cukup hanya memahami teks agama; ia juga dituntut untuk peka terhadap konteks sosial, budaya, psikologi audiens, hingga perkembangan teknologi. Dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu berbicara dengan bahasa zaman.

TRANSFORMASI DAKWAH DI ERA MODERN

Dakwah kontemporer adalah dakwah yang menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan modern. Di sinilah kreativitas, empati, dan pemahaman teknologi menjadi kunci keberhasilan. Beragam pendekatan kini lahir, memperlihatkan bagaimana dakwah dapat tampil lebih segar dan kontekstual.

1. DAKWAH DIGITAL DAN MEDIA SOSIAL

Era digital membuka ruang dakwah yang begitu luas. Media seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga podcast kini menjadi panggung baru bagi penyebaran nilai-nilai Islam.

Menurut Susanto dan Rini (2024) dalam Peran Dakwah Digital dalam Menyebarkan Pesan Islam di Era Media Sosial, media digital telah memungkinkan dakwah menjangkau audiens lintas wilayah dan generasi tanpa batas ruang dan waktu. Kini, seorang da’i tidak lagi harus berdiri di mimbar; cukup dengan ponsel dan niat baik, pesan dakwah bisa bergaung ke seluruh dunia.

2. DAKWAH PERSONAL DAN EMPATIK

Tidak semua orang mudah tersentuh oleh ceramah di ruang publik. Banyak yang justru menerima pesan agama melalui pendekatan personal yang penuh empati dan kesabaran.

Menurut Hakim (2022) dalam Pendekatan Personal dalam Komunikasi Dakwah Kontemporer, pendekatan empatik dalam dakwah mampu membangun hubungan emosional antara da’i dan mad’u sehingga pesan keislaman lebih mudah diterima.

3. DAKWAH MELALUI PEMBERDAYAAN SOSIAL

Dakwah sejatinya bukan hanya ucapan, tetapi juga tindakan nyata. Ketika umat Islam terlibat dalam program sosial—seperti beasiswa, pelatihan kerja, bantuan kemanusiaan, atau pemberdayaan masyarakat—di situlah dakwah hadir secara konkret.

Menurut Fatimah (2023) dalam Model Dakwah Pemberdayaan Sosial di Era Disrupsi, bentuk dakwah semacam ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan melalui aksi sosial yang memberdayakan dan menumbuhkan solidaritas.

4. DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KONTEKSTUAL

Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk. Di tengah keberagaman budaya, bahasa, dan keyakinan, dakwah yang efektif harus menghormati keragaman itu.

Menurut Anshori (2021) dalam Pendekatan Multikultural dalam Dakwah di Masyarakat Plural, dakwah yang efektif menekankan penghargaan terhadap perbedaan budaya dan berupaya mencari titik temu di antara nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

5. DAKWAH KREATIF DAN INOVATIF

Generasi muda hidup dalam dunia visual dan serba cepat. Karena itu, dakwah perlu bertransformasi menjadi lebih kreatif.

Menurut Fauzan (2024) dalam Desain Komunikasi Dakwah Visual: Animasi 2D untuk Generasi Z, media kreatif seperti film pendek, komik islami, dan animasi edukatif mampu menarik perhatian generasi muda sekaligus menyampaikan pesan moral dengan cara yang menyenangkan.

6. DAKWAH ILMIAH DAN AKADEMIK

Untuk kalangan intelektual, dakwah perlu dikemas secara rasional dan ilmiah. Forum diskusi, seminar keagamaan, atau tulisan reflektif bisa menjadi sarana yang efektif.

Menurut Rahman (2022) dalam Dakwah Ilmiah sebagai Jawaban terhadap Tantangan Pemikiran Modern, pendekatan ilmiah membantu menjembatani ajaran Islam dengan dunia akademik, menjadikan Islam hadir sebagai sistem nilai yang rasional dan solutif.

7. DAKWAH KOLABORATIF DAN KOMUNITAS

Dakwah tidak harus berjalan sendiri. Kolaborasi antara da’i, komunitas hobi, pegiat sosial, hingga influencer dapat memperluas jangkauan dakwah.

Menurut Yusuf (2023) dalam Kolaborasi Komunitas dalam Dakwah Digital: Studi Kasus Gerakan Pemuda Hijrah, kolaborasi lintas komunitas memperkuat daya sebar pesan dakwah dan membuatnya lebih mudah diterima di berbagai lapisan masyarakat.

PENUTUP

Dakwah di era kontemporer bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi memastikan bahwa pesan itu benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya. Perpaduan antara kearifan metode klasik dan kreativitas modern menjadikan dakwah lebih segar, komunikatif, dan mudah diterima.

Kini, dakwah tidak hanya hadir di mimbar masjid, tetapi juga di ruang digital, komunitas sosial, hingga interaksi personal. Dakwah yang bijak, kontekstual, dan penuh empati akan menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan tantangan zaman.

Oleh:Teguh Abdi Priyanto
Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon