
Cirebon – Di pagi yang masih berselimut embun, Saefudin menyusuri pematang sawahnya di Desa Leuwidingding, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon.
Ia mengamati satu per satu rumpun padi yang siap dipanen, meraba butiran gabah yang padat, dan menghela napas panjang, kali ini bukan karena kegelisahan, melainkan kepuasan.
Sawahnya kini lebih subur, panennya lebih melimpah, dan masa depannya sebagai petani lebih terjamin.
Namun, beberapa tahun lalu, kondisi itu terasa seperti impian yang jauh dari kenyataan.
Saat itu, ia dan banyak petani di desanya menghadapi tantangan besar. Pupuk subsidi yang sulit diakses, hasil panen yang stagnan, harga sewa lahan yang tinggi membuat keuntungan yang semakin menipis.
“Dulu, setiap musim tanam selalu was-was. Pupuk subsidi sulit didapat, harganya naik turun, dan kalau mau beli pupuk non-subsidi rasanya berat karena takut rugi,” kenang pria yang biasa dipanggil Aep beberapa waktu lalu.
Kondisi ini membuatnya sempat berpikir untuk beralih profesi. Banyak pemuda di desanya meninggalkan pertanian karena melihat hasil yang tidak sebanding dengan usaha.
Namun, semua itu berubah setelah ia bergabung dalam Program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (Makmur), sebuah inisiatif dari PT Pupuk Indonesia (Persero) yang hadir untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan pendekatan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Transformasi Kelompok Tani
Pada 2023, Aep bersama kelompok taninya, Tunas Harapan yang memiliki sekitar 25 anggota, mendapat sosialisasi tentang Program Makmur.
Awalnya, ia ragu. Bagaimana mungkin mereka bisa bertani tanpa bergantung pada pupuk subsidi?
Namun, melalui program ini, Aep dan petani lainnya mendapat pendampingan intensif. Mereka diperkenalkan dengan konsep pemupukan berimbang berdasarkan hasil uji tanah, serta penggunaan pupuk non-subsidi yang lebih tepat guna.
“Kami diajari cara memilih pupuk yang sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan lama. Dulu, kami pakai pupuk berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kebutuhan tanah,” ujarnya.
Dengan bimbingan dari tim Program Makmur, Aep dan kelompok taninya mulai mencoba metode baru ini di sawahnya.
Hasilnya mengejutkan Aep dan rekannya, karena jika sebelumnya ia hanya mampu menghasilkan 4 ton gabah per hektare, kini angka itu meningkat menjadi 6 sampai 7 ton per hektare.
Dari sisi ekonomi, peningkatan produktivitas ini berdampak besar. Sebelum mengikuti program, biaya pupuk per hektare yang ia keluarkan berkisar Rp1,2 juta, namun keuntungan yang ia peroleh relatif kecil karena hasil panen tidak maksimal.
Setelah mengikuti Program Makmur, dengan pupuk non subsidi, biaya pupuknya meningkat sedikit menjadi Rp2 juta, tetapi kenaikan hasil panen membuat keuntungannya melonjak lebih dari 40%.
“Dulu panen cuma cukup buat balik modal, sekarang ada untung lebih yang bisa saya pakai untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya dengan senyum lebar.
Tak hanya dari sisi pemupukan, Aep juga mendapat manfaat dari aspek lain dalam program ini, seperti pendampingan budidaya berkelanjutan yang membantunya memahami rotasi tanaman dan teknik pengolahan tanah yang lebih baik.
Selain itu program ini menurutnya memberikan akses pembiayaan dari perbankan, sehingga ia tidak perlu lagi meminjam dengan bunga tinggi dari tengkulak.
“Dan asuransi pertanian, yang memberikan jaminan jika sewaktu-waktu gagal panen akibat cuaca ekstrem atau serangan hama,” ungkapnya.
Program Makmur juga menyediakan off taker atau jaminan pasar, yang memastikan hasil panennya bisa langsung diserap dengan harga yang lebih stabil.
“Dulu kalau panen, harga gabah sering jatuh. Sekarang ada kepastian, jadi kami tidak khawatir lagi soal pasar,” katanya.
Pupuk Indonesia Dukung Kemandirian Petani dan Ketahanan Pangan
Apa yang dialami Aep adalah bagian dari transformasi besar yang didorong oleh Pupuk Indonesia, produsen pupuk terbesar di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia, Tri Wahyudi menjelaskan, Program Makmur adalah salah satu bentuk inovasi perusahaan dalam membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir yang memungkinkan petani dapat mandiri dan berkelanjutan.
Selain on farm, Program Makmur ini juga bergerak pada off farm dengan melibatkan banyak stakeholder seperti perbankan, lembaga penjamin atau asuransi, pemerintah daerah, serta off taker.
“Kami ingin petani tidak hanya bergantung pada pupuk subsidi, tetapi juga bisa meningkatkan produktivitasnya dengan akses teknologi, pembiayaan, serta jaminan pasar yang lebih baik,” ujarnya saat menghadiri program Safari Makmur.
Sebagai holding perusahaan pupuk nasional, Pupuk Indonesia membawahi lima anak usaha produsen pupuk, termasuk Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang, Pupuk Kaltim, Pupuk Iskandar Muda, dan Pupuk Sriwidjaja Palembang.
Perusahaan ini memiliki jaringan distribusi yang luas, memastikan pasokan pupuk baik subsidi maupun non-subsidi tersedia bagi petani.
Tri menambahkan, Program Makmur telah berhasil meningkatkan produktivitas di lahan seluas 450 ribu hektare dengan jumlah petani binaan yang terlibat lebih dari 200 ribu petani.
Sedangkan pada tahun 2025, Pupuk Indonesia menargetkan realisasi program Makmur di lahan seluas 500 ribu hektare yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dimana 200 ribu hektare khusus untuk tanaman padi, dan 300 ribu hektare selebihnya adalah komoditas non padi, seperti tebu, singkong, kopi, kelapa sawit, hortikultura, dan lainnya.
“Kami melihat petani yang beralih ke pupuk non-subsidi justru mendapatkan hasil lebih tinggi dan keuntungan lebih besar. Ini yang ingin kami dorong agar petani semakin mandiri,” jelasnya.
Menjaga Ketahanan Pangan dan Masa Depan Pertanian
Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam ketahanan pangan, mulai dari fluktuasi harga pupuk, dampak perubahan iklim, hingga regenerasi petani yang berjalan lambat.
Namun, kisah sukses Aep dan puluhan petani lain yang tergabung dalam Program Makmur membuktikan pertanian Indonesia bisa maju dengan pendekatan yang tepat.
Kini, hamparan sawah di Desa Leuwidingding bukan hanya sekadar ladang padi, tetapi juga ladang harapan.
Harapan bahwa dengan dukungan teknologi, inovasi, dan kebijakan yang tepat, petani Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri memupuk kemandirian demi ketahanan pangan negeri.
Kini, dengan hasil yang semakin menjanjikan, Aep tidak lagi meragukan masa depannya sebagai petani.
Ia bahkan mulai mengajak pemuda di desanya untuk kembali ke sawah, menunjukkan bahwa pertanian bisa menjadi pilihan yang menguntungkan.
“Kalau dulu anak-anak muda malas bertani karena hasilnya tidak seberapa, sekarang kami bisa tunjukkan bahwa bertani dengan cara yang benar bisa sukses,” pungkas pria 25 tahun ini. (Josa)