Cirebon – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menggencarkan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR). Lewat program ini, OJK ingin semakin banyak masyarakat mengenal investasi pasar modal, termasuk pelajar, mahasiswa hingga pekerja di Cirebon, Jawa Barat.

Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi, Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi 1 dan Pasar Modal Regional OJK, Sujanto, mengatakan program tersebut dirancang agar investasi bisa dijangkau lebih banyak kalangan masyarakat.

“Harapannya ini akan menyebar pada banyak penduduk yang ada di Indonesia ini, termasuk nanti apakah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan sebagainya,” kata Sujanto saat ditemui di Kantor OJK Cirebon, Senin.

Menurut Sujanto, masyarakat bisa mulai berinvestasi melalui produk reksa dana. Investasi ini dilakukan secara terencana dan berkala, dengan pilihan produk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Reksa dana juga bisa menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang baru mengenal dunia investasi. Setelah memahami cara kerja dan risikonya, calon investor bisa mempelajari instrumen pasar modal lain, seperti saham.

“Harapan kita yang paling penting adalah itu, bagaimana untuk ke depan itu untuk memahami risikonya,” ujarnya.

Sujanto menjelaskan, Program PINTAR memiliki dua layanan. Pertama, layanan reksa dana umum yang terbuka bagi calon investor tanpa batasan usia. Kedua, SiMuda Investasiku yang menyasar masyarakat berusia 18 hingga 30 tahun.

Namun, menurutnya, menambah jumlah investor bukan sekadar mengajak masyarakat menanamkan uangnya. Pemahaman mengenai produk yang dipilih dan risiko investasi juga harus menjadi perhatian.

Sebab, setiap produk reksa dana memiliki karakteristik berbeda. Ada reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran hingga saham. Masing-masing memiliki tingkat risiko yang perlu dipahami calon investor sebelum menentukan pilihan.

Di sisi lain, tingkat literasi pasar modal di Indonesia masih menjadi tantangan. Sujanto menyebut indeks literasi pasar modal saat ini berada di angka 11,78 persen. Sementara indeks inklusinya baru mencapai 3,34 persen.

Meski begitu, jumlah investor pasar modal di Indonesia sudah mencapai sekitar 30,87 juta orang. Jumlah tersebut meningkat 60 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.