
Cirebon – Langkah kaki datang silih berganti menuju halaman Pondok Pesantren Buntet, Sabtu (28/3/2026). Wajah-wajah yang sebagian lama tak berjumpa kini kembali saling menyapa. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang sendiri.
Seminggu setelah Idulfitri, suasana di pesantren ini belum juga surut. Lebaran seolah masih berlanjut. Tradisi Lebaran Ketupat kembali digelar, menghadirkan ruang yang tak sekadar untuk makan bersama, tetapi juga mempertemukan kembali ikatan yang sempat terpisah oleh waktu dan jarak.
Di sudut-sudut pondok, percakapan mengalir tanpa jeda. Para alumni yang dulu pernah menimba ilmu di tempat ini kembali menyusuri jalan yang sama, menyapa para kiai, dan bertemu kawan lama yang dulu mengisi hari-hari mereka.
Beberapa di antaranya datang dari luar kota. Perjalanan jauh tak menjadi soal. Yang penting, mereka bisa kembali merasakan suasana yang dulu begitu akrab.
Ahmad Sultan Aulia, salah satunya. Ia datang dari Tangerang bersama keluarga. Baginya, kehadiran di momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi bagian dari menjaga hubungan yang sudah lama terjalin.
“Saya memang sengaja datang ke sini untuk silaturahmi. Sekalian ketemu teman-teman lama,” ujarnya.
Ia menyebut, tradisi Lebaran Ketupat di Pondok Pesantren Buntet sudah berlangsung lama dan selalu digelar sekitar sepekan setelah Idulfitri.
“Lebaran ketupat ini biasanya memang sekitar seminggu setelah Lebaran,” kata dia.
Hal serupa dirasakan Zuhrufi, alumni lainnya yang datang dari Depok. Setiap tahun, ia berusaha menyempatkan diri untuk kembali ke Buntet. Bagi dia, suasana seperti ini sulit ditemukan di tempat lain.
“Setiap tahun selalu berusaha datang. Bisa ketemu kiai dan teman-teman lama,” ujarnya.
Ketupat Jadi Sajian Utama

Di tengah hangatnya silaturahmi, kesibukan juga terlihat di area dapur dan penyajian. Ketupat tersusun rapi, siap dibagikan kepada siapa saja yang hadir. Aroma masakan menyeruak, mengundang siapa pun untuk mendekat.
Makan bersama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi ini. Bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga cara sederhana untuk merawat kebersamaan.
Alif, salah seorang santri, mengatakan ketupat memang menjadi sajian utama dalam momen ini. Teksturnya yang padat dan pulen dipadukan dengan beragam lauk khas yang menggugah selera.
Salah satu yang paling diminati adalah jangan sabrang, sayur berkuah kecap dengan potongan cabai hijau dan tempe. Rasanya gurih dengan sentuhan manis yang khas.
“Memang salah satu lauk yang khas di sini jangan sabrang,” kata Alif.
Selain itu, ada pula sambal goreng kentang dan ayam kecap yang melengkapi hidangan. Semua tersaji untuk siapa saja yang datang, tanpa sekat.
Di Buntet, ketupat bukan sekadar makanan. Ia menjadi pengikat cerita. Setiap suapannya seolah membawa kembali kenangan lama, tentang masa belajar, tentang kebersamaan, dan tentang rumah yang selalu punya jalan untuk disinggahi kembali.
Suasana hari raya masih terasa hangat di Pondok Pesantren Buntet. Melalui tradisi ketupat, rindu yang lama tersimpan perlahan menemukan jalannya untuk pulang.




