
Cirebon – Sejumlah warga di Blok Pagar Gunung, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, masih bertahan mengandalkan kerajinan anyaman bambu sebagai sumber penghidupan.
Di tengah gempuran produk modern, tradisi yang telah diwariskan sejak lama ini tetap hidup, meski menghadapi tantangan pasar.
Di sela rumah-rumah sederhana di Blok Pagar Gunung, suara gesekan bambu berpadu dengan canda warga, membentuk irama kehidupan yang telah terjaga puluhan tahun.
Di kampung ini, bambu bukan sekadar tanaman. Bagi warga, bambu menjadi sumber penghidupan sekaligus warisan budaya yang terus dipertahankan.
Hampir di setiap halaman rumah, para perajin duduk bersila. Tangan mereka cekatan menganyam bilah-bilah bambu menjadi bakul berbagai ukuran, dari yang kecil hingga besar, dari yang sederhana hingga lebih rapat dan kuat.
Bagi Atika (43), pekerjaan ini sudah dilakoni sejak kecil. Ia mulai belajar menganyam saat masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
“Dari kecil sudah diajarkan orang tua. Mulai dari meraut sampai menganyam,” tuturnya, Senin (27/4/2026).
Dari tangannya, bambu yang kaku berubah menjadi bakul kokoh. Dalam sehari, Atika mampu membuat sekitar empat bakul setengah jadi. Untuk tahap akhir, jumlahnya bisa mencapai 20 bakul, tergantung tingkat kerumitan.
Bambu yang digunakan berasal dari sekitar desa, terutama jenis bambu tali dan bambu surat. Ketersediaan bahan baku yang melimpah membuat kerajinan ini berkembang sejak lama.
Meski begitu, perjalanan sebagai perajin tak selalu mulus. Atika sempat merasakan masa ketika permintaan menurun drastis. Penjualan tersendat, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Belakangan, permintaan mulai kembali stabil.
Bakul hasil anyaman dijual dengan harga Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per buah. Selain dipasarkan ke pasar tradisional, kini para perajin juga terbantu dengan kehadiran pengepul yang datang langsung ke kampung.
Kepala Dusun Desa Cipanas, Rizal, mengatakan kerajinan anyaman bambu di wilayahnya sudah ada sejak lama, bahkan sejak pasca kemerdekaan Indonesia.
“Dulu, karena bambu di sini melimpah, masyarakat mulai mengolahnya jadi bakul. Lama-lama jadi mata pencaharian utama,” jelasnya.
Saat ini, ratusan kepala keluarga di Blok Pagar Gunung masih menggantungkan hidup dari anyaman bambu. Produk mereka tidak hanya dipasarkan di Cirebon, tetapi juga ke berbagai daerah di Jawa Barat.
Namun, di tengah maraknya produk modern berbahan plastik, eksistensi anyaman bambu menghadapi tantangan. Persaingan harga dan perubahan selera pasar menjadi ujian bagi para perajin.
Rizal berharap potensi kampungnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. Ia ingin Blok Pagar Gunung berkembang menjadi sentra kerajinan sekaligus destinasi wisata edukasi.
“Kami ingin tempat ini dikenal lebih luas. Kalau bisa jadi sentra atau destinasi kerajinan, tentu akan membantu ekonomi warga,” ujarnya.
Di Pagar Gunung, anyaman bambu bukan sekadar produk rumah tangga. Ia menjadi simbol ketekunan warga yang terus bertahan, merajut harapan dari setiap helai bambu.




