
CIREBON – Penguatan ideologi Marhaenisme menjadi salah satu agenda utama Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Cirebon periode 2026–2031. PA GMNI mendorong para alumni mengambil peran lebih nyata dalam menghadapi persoalan kerakyatan.
Hal itu mengemuka dalam Konferensi Cabang (Konfercab) DPC PA GMNI Cirebon yang berlangsung di kawasan Talun, Kabupaten Cirebon, Sabtu (22/8/2026).
Ketua terpilih DPC PA GMNI Cirebon periode 2026-2031, Imam Yahya menilai kondisi ekonomi dan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat membutuhkan keberpihakan nyata dari kaum Marhaenis. Menurut Imam, penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, alumni GMNI yang bergerak di berbagai bidang harus mampu menggunakan perannya untuk membantu masyarakat.
“Alumni harus terus didorong untuk memiliki jiwa Marhaenis dan membela kaum Marhaen, baik mereka berada di dunia politik, birokrasi, maupun sektor profesional,” kata Imam.
Imam mengatakan, keberpihakan kepada masyarakat harus menjadi ciri khas alumni GMNI. Ia menilai berbagai persoalan pelayanan dan perlindungan sosial juga dapat menjadi ruang perjuangan alumni. Salah satunya persoalan perubahan desil masyarakat yang berpengaruh terhadap akses bantuan sosial dan layanan publik.
“Banyak persoalan yang membuat masyarakat kecewa. Salah satunya terkait kenaikan desil, padahal pendapatan masyarakat pas-pasan tapi desil naik, kepesertaan BPJS tidak aktif, dan persoalan lainnya. Kondisi seperti ini harus menjadi alat perjuangan kita untuk membela hak-hak masyarakat,” ujarnya.
Perkuat Distribusi Kader
Imam juga menekankan pentingnya distribusi kader agar alumni GMNI mampu mengambil peran di berbagai sektor. Ia ingin kader tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga membawa nilai-nilai Marhaenisme ketika terjun ke politik, birokrasi, maupun dunia profesional.
“Pertama, kita perlu memperkuat peran dan fungsi alumni. Kedua, kita perlu memperkuat tugas dan fungsi cabang GMNI agar dapat berkembang di kampus-kampus di Cirebon. Karena itu, penguatan kader menjadi hal yang penting,” ujar Imam yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Cirebon.
Selain kaderisasi, Imam menyoroti tantangan literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital. Menurut dia, kebiasaan mengonsumsi konten pendek dapat memengaruhi kemampuan masyarakat memahami persoalan secara lebih mendalam.
Karena itu, ia mendorong kader GMNI memanfaatkan ruang digital untuk memperluas interaksi sekaligus menyampaikan gagasan tentang kebangsaan dan kerakyatan. Imam juga meminta seluruh alumni menjaga soliditas organisasi. Ia berharap PA GMNI Cirebon dapat menjadi wadah yang menyatukan alumni sekaligus memperkuat keberpihakan terhadap masyarakat.
“Alumni harus solid, kompak, dan bersatu. Alumni GMNI harus menjadi garda terdepan dalam membela kaum Marhaen yang hari ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Kita harus tetap kompak dan kuat,” tuturnya.
Ia menambahkan, kader dan alumni perlu memperluas edukasi mengenai perjuangan serta persoalan kerakyatan. Dengan cara itu, Marhaenisme tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi hadir melalui kerja nyata untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Semangat Marhaenisme tidak hanya menjadi gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata untuk membela kepentingan rakyat,” pungkas Imam.
Sementara itu, Ketua Panitia Konfercab DPC PA GMNI Cirebon, Asep Saefullah, menegaskan pelaksanaan konfercab berjalan lancar dengan mengedepankan prinsip demokrasi. Asep menyebut terjadi diskursus panjang dalam konfercab yang membahas berbagai persoalan kerakyatan.
“Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Jadi, konfercab ini melegitimasi Imam Yahya sebagai ketua terpilih secara demokratis,” kata Asep.
Konfercab DPC PA GMNI Cirebon ini juga dihadiri Ketua DPD PA GMNI Jabar Ineu Purwadewi Sundari, dan Sekretaris DPD PA GMNI Jabar Adiyana Slamet beserta jajaran pengurusnya.




