
Cirebon – Tumpukan sampah di kawasan Pantai Kesenden, Kota Cirebon, disebut menjadi persoalan yang terus berulang. Sampah menumpuk, dibersihkan, lalu muncul lagi.
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Sri Wahyuni Herman atau SWH, menilai kondisi tersebut menunjukkan penanganan sampah selama ini belum menyentuh sumber masalah.
Menurut SWH, sampah yang menumpuk di Kesenden diduga banyak berasal dari aliran sungai, terutama Sungai Kedung Pane. Sampah rumah tangga dari wilayah hulu terbawa arus hingga ke hilir dan akhirnya menumpuk di kawasan pesisir.
“Sampah terbawa dari hulu Sungai Kedungpane. Limbah rumah tangga terbawa aliran sungai sampai ke hilir lalu terjebak di pinggir laut,” kata SWH, Rabu (2/9/2026).
Dia mengatakan persoalan sampah di Kesenden tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah di pantai. Penanganannya harus dilakukan dari hulu sampai hilir.
Membersihkan pantai dinilai tidak akan menyelesaikan masalah jika sampah yang terbawa aliran sungai dari hulu masih terus mengalir ke pesisir.
SWH mengatakan tumpukan sampah di Pantai Kesenden sudah beberapa kali terjadi. Sampah bahkan pernah menumpuk hingga sekitar satu kilometer di sekitar muara Sungai Kedung Pane.
Menurut dia, sampah banyak terbawa dari wilayah hulu ketika debit sungai meningkat. Nelayan juga mengeluhkan volume sampah yang bertambah setelah hujan deras karena terbawa arus sungai menuju laut.
SWH menilai pola penanganan sampah di Kesenden perlu diperbaiki. Jika sumber sampah di hulu tidak ikut dibereskan, tumpukan sampah di pesisir akan terus muncul.
“Kalau setiap kali hujan deras sampah kiriman datang lagi, berarti persoalannya belum selesai. Yang dibutuhkan bukan hanya membersihkan sampah yang sudah sampai di pantai, tetapi menghentikannya sejak dari sumber,” ujarnya.
Selain sampah kiriman, SWH juga menyoroti sarana pembuangan sampah di kawasan pesisir. Keterbatasan tempat pembuangan maupun kontainer sampah dinilai bisa membuat masyarakat kesulitan membuang sampah dengan tertib.
Menurut SWH, penanganan sampah di Kesenden tidak cukup hanya dengan membersihkan pantai.
Tak Cukup Bersihkan Pantai
SWH menilai penanganan sampah di Kesenden harus melibatkan banyak pihak. Sebab, aliran sungai tidak mengenal batas wilayah administrasi.
Menurutnya, Pemkot Cirebon, Pemkab Cirebon, pemerintah provinsi, BBWS hingga masyarakat perlu duduk bersama. Mereka perlu memetakan sumber sampah dan menentukan bagian yang harus ditangani sejak dari hulu.
“Jangan sampai kita hanya sibuk membersihkan sampah di hilir, sementara di hulunya tidak ditangani. Besok atau lusa sampah akan datang lagi,” katanya.
Dia mengatakan persoalan lingkungan di kawasan Cirebon juga tidak bisa dilihat hanya dari masalah sampah. Pencemaran sungai dan laut, perubahan fungsi lahan hingga kondisi ekosistem pesisir saling berkaitan.
Kerusakan atau berkurangnya kawasan penyangga di pesisir, menurut dia, juga bisa menambah tekanan terhadap lingkungan. Sampah, sedimen dan limbah rumah tangga yang terbawa sungai pada akhirnya akan bermuara ke laut.
Karena itu, pembangunan di kawasan Cirebon dan sekitarnya dinilai tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan.
“Ini bukan sekadar persoalan sampah. Kita harus melihat hubungan antara sungai, pesisir, laut, mangrove, pertanian dan aktivitas pembangunan. Kalau satu bagian terganggu, dampaknya bisa menjalar ke bagian lainnya,” ujar SWH.
Nelayan Ikut Terdampak
Tumpukan sampah di Kesenden juga disebut berdampak terhadap aktivitas nelayan. Sampah dan sedimentasi di muara dilaporkan mengganggu lalu lintas perahu nelayan hingga perlu dilakukan pengerukan menggunakan alat berat.
Menutut SWH, nelayan juga terganggu oleh tumpukan sampah. SWH menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sekadar masalah kebersihan.
“Ketika sampah menutup muara, yang terdampak bukan hanya pemandangan. Nelayan terganggu, ekosistem pesisir terganggu, dan dalam jangka panjang masyarakat juga yang menanggung dampaknya,” katanya.
Dia mendorong pemerintah menyiapkan penanganan yang lebih permanen. Mulai dari mengendalikan sampah di hulu Sungai Kedung Pane, menyediakan sarana pengelolaan sampah, mengawasi pembuangan sampah hingga menahan sampah sebelum masuk ke laut.
“Kalau polanya masih viral, dibersihkan, kemudian muncul lagi, berarti ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Sekarang waktunya pemerintah menyelesaikan akar masalahnya,” pungkasnya.




