BANDUNG — Gubernur Jawa Barat KDM menyampaikan penghormatan terakhir kepada Kanaya Whulan, mantan vokalis Emka 9 yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan seni dan budaya yang dijalaninya.

Kanaya, perempuan asal Tasikmalaya, dikenal masyarakat Jawa Barat sebagai salah satu vokalis Emka 9. Bersama kelompok tersebut, dia kerap mendampingi berbagai agenda KDM, mulai dari kegiatan resmi hingga safari budaya ke sejumlah daerah.

Dalam pidatonya sebelum pemakaman Kanaya, KDM mengenang sosok tersebut sebagai rekan seperjalanan yang tidak hanya memiliki kemampuan bernyanyi, tetapi juga mampu menggugah banyak orang melalui karya dan sikapnya.

KDM mengatakan kehidupan Kanaya telah sampai pada waktunya untuk kembali kepada Sang Pencipta.

“Sudah tiba waktunya Kanaya kembali ke alam tempat kita semua akan kembali. Semoga dia ditempatkan di alam kuburnya dengan penuh cahaya dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah,” ujar KDM.

Menurut KDM, Kanaya merupakan sosok yang memiliki hati bersih dan mampu membangkitkan kesadaran banyak orang melalui kehadirannya.

“Saya yakin Kanaya adalah orang yang memiliki hati yang bersih, ahli dalam kebaikan dan kemuliaan,” katanya.

KDM pun mendoakan agar seluruh amal Kanaya diterima Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni.

“Semoga iman dan Islamnya diterima, dosa-dosanya diampuni, alam kuburnya diterangi, dan dia dibahagiakan ketika menyambut alam akhirat,” ucapnya.

Tabungan Rp400 Juta

Dalam kesempatan tersebut, KDM juga mengungkapkan satu hal yang selama ini disiapkannya untuk Kanaya.

Dia mengatakan setiap honor yang diterima Kanaya selama ikut dalam berbagai kegiatan bersamanya tidak seluruhnya diberikan secara langsung, tetapi disisihkan dan ditabung.

“Setiap honor yang diberikan kepada Kanaya selalu saya simpan, karena saya tahu siapa tahu suatu saat uang itu dibutuhkan,” katanya.

Dari tabungan tersebut, KDM kemudian menyerahkan uang sebesar Rp400 juta kepada keluarga Kanaya.

“Karena itu, saya menyerahkan rezeki yang selama ini saya simpan, jumlahnya Rp400 juta. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk ibu dan keluarganya,” ujar KDM.

KDM mengatakan pemberian tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk meneruskan semangat Kanaya dalam membantu sesama.

Dia mengenang Kanaya sebagai bagian dari perjalanan panjangnya di dunia seni. Bersama Emka 9, Kanaya disebut telah mendampinginya dalam berbagai kegiatan sejak bertahun-tahun lalu, dari Jawa Barat hingga Papua.

Siapkan Tajug untuk Mengenang Kanaya

Tak hanya menyerahkan tabungan, KDM juga menyampaikan rencana membangun sebuah tajug atau tempat ibadah untuk mengenang Kanaya.

Rencana tersebut akan terlebih dahulu dikoordinasikan dengan tokoh masyarakat dan pengurus DKM setempat.

“Kalau diizinkan oleh seluruh tokoh masyarakat dan Ketua DKM, saya akan membangun sebuah tajug atau masjid,” katanya.

Bagi KDM, pembangunan tempat ibadah tersebut diharapkan menjadi bagian dari amal yang terus memberikan manfaat setelah Kanaya meninggal dunia.

KDM menegaskan, kepergian Kanaya bukan berarti seluruh kebaikan dan karya yang ditinggalkannya ikut berakhir.

“Jasad Teh Kanaya memang dikuburkan, tetapi amal kebaikannya tidak akan pernah bisa dikuburkan,” kata KDM.

Menurut dia, salah satu warisan Kanaya adalah suara yang telah direkam dalam berbagai lagu dan karya. Lagu-lagu tersebut akan tetap hidup dan didengar meski Kanaya telah tiada.

Kanaya sendiri cukup dikenal masyarakat Jawa Barat melalui kiprahnya bersama Emka 9. Dia bergabung dengan kelompok tersebut sejak 2019 dan kerap hadir dalam berbagai agenda KDM.

Sejumlah lagu ciptaan KDM yang kerap dinyanyikan Kanaya antara lain Rindu Purnama, Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, dan Memanen Cinta.

Dalam momen penghormatan terakhir tersebut, lagu Rindu Purnama kembali dinyanyikan. Lagu itu menjadi salah satu karya yang lekat dengan perjalanan Kanaya bersama KDM dan Emka 9.

KDM pun menyampaikan terima kasih kepada keluarga serta seluruh pihak yang telah mengiringi Kanaya hingga prosesi pemakaman.

“Terima kasih kepada semuanya yang telah mengiringi, mendoakan, menyalatkan, hingga mengantarkan Kanaya ke tempat peristirahatan terakhir,” katanya.

Kanaya meninggal dunia dalam usia 35 tahun.Terakhir ia membawakan Lagu “Melati di Tapal Batas” karya Ismail Marzuki saat iring-iringan kereta kencana yang membawa Bendera Merah Putih dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate pada 17 Agustus 2026 lalu.